-->
Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

"MAD SAD BAD" : Omnibus Bukan Omnibus


22 Aug 2016  Anonymous 0

"Cinderella" yang Nanggung



"Having courage and be kind".

Lima kata itu pasti kalian semua bakal tahu. Iya, dikutip dari mana, kalian pasti tahu. Kata kuncinya: Disney. Masih kurang? Oke, kata kunci kedua: Cinderella. Paham? 







Sumber gambar: Wikipedia





Oke, sepertinya untuk sebagian orang, khususnya Disney-mania, film Cinderella versi studio animasi kenamaan Walt Disney ini amat sangat ditunggu. Termaksud aku sendiri. Jujur, aku ini tergolong Disney-mania. Semasa kecil hingga sekarang, aku tidak pernah absen untuk menonton film-film keluaran studio animasi yang selalu memproduksi film-film animasi sarat makna kehidupan. Makanya begitu film ini keluar, langsung saja, tanpa ba-bi-bu lagi, aku ngibrit ke bioskop terdekat (yang sebetulnya jaraknya jauh juga). 

Tadinya aku berharap, Cinderella versi yang ini bisa lebih 'wah' dari versi-versi sebelumnya. Setidaknya bisa menyamai "Snow White and the Huntsman" gitu. Tapi buyar ekspektasi itu. Kurang lebih setengah jam penayangan film, aku rada kecewa. Dalam benak, "Ini mah nggak jauh beda sama versi-versi sebelumnya," 

Cinderella versi 2015 ini tak jauh berbeda dari versi-versi sebelumnya. Malah tak jauh berbeda dari versi animasi Disney yang sudah dibuat bertahun-tahun silam sejak artikel ini keluar. Namun, tak dipungkiri juga, harus kuakui, ada sedikit gebrakan-gebrakan yang dimunculkan. Tapi tetap gebrakan-gebrakan itu kurang greget. 

Lewat versi 2015 ini, oleh Kenneth Branagh--sang sutradara, tokoh Ella memang dibuat lebih berani. Tepatnya sedikit lebih berani. Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, tokoh Ella di versi-versi sebelumnya itu menye-menye banget. Terlalu melankolis dan begitu nrimo terhadap kondisi yang menerpanya. Nah di versi 2015 ini, Ella sedikit dibikin lebih berani. Ia tidak digambarkan untuk terlalu berpasrah begitu saja. Ada perlawanan-perlawanan yang muncul dalam diri seorang Ella. Meskipun perlawanan-perlawanan itu masih kurang begitu berkesan. Setidaknya itu buatku, lho (Opini jujur banget dari seorang Disney-mania!).

Ceritanya sendiri, di luar soal Ella, harus diakui pula bahwa sudah sedikit ada pengembangan. Disney mulai berani bereksplorasi. Beberapa tokoh sampingan yang selama ini hanya terlihat sebagai cemeo, mulai digali lagi karakter demi karakternya. Itu seperti sang ibunda Ella sendiri, ayah si Pangeran, hingga muncul tokoh baru yang kurang begitu kita akrabi. Ceritanya mulai lebih berbobot, tapi masih kurang. Bisa dibilang, Cinderella versi 2015 ini ceritanya serba nanggung. Kenapa? 

Sebabnya, kalau kita mau golongkan ini jadi konsumsi anak-anak, kurang begitu cocok. Ada beberapa poin dalam film yang kurang cocok dipertunjukkan ke anak-anak. Untuk film dewasa pun, konfliknya juga belum begitu nendang. Film buat remaja? I don't think so. Kurang begitu yakin, remaja sekarang suka film yang model seperti ini. Mungkin jawaban yang paling cocok: film ini sama seperti Stand By Me Doraemon. Yep, film ini cocok buat bahan nostalgia orang dewasa yang tengah dirundung kangen akan fairy's tale. 

Soal story line, sepertinya aku tidak perlu gamblang hingga spoiler abis deh. Kita semua sudah tahu cerita Cinderella yang beredar di masyarakat seperti apa. Kurang lebih seperti itulah story line dari Cinderella versi 2015. 

Omong-omong, Cinderella versi asli itu jauh lebih menarik alurnya. Nah, awalnya aku sempat berpikir, jangan-jangan versi kali ini hampir menyerupai versi asli--yang lebih kelam? Tapi Disney sepertinya berkata lain. Mungkin versi asli kurang sesuai dengan konsep yang selama ini mereka usung lewat animasi-animasi sebelumnya. Yah itu lho konsep cerita yang seperti menjual mimpi. Yang mana anak-anak sudah diajarkan untuk berani bermimpi, berani memperjuangkannya, serta tidak takut terhadap apapun yang ada di depan mata. Konsep asli dari Cinderella itu memang bentrok sekali dengan konsep Walt Disney. 

Soal kata-kata sang ibunda Ella: "Having courage and be kind", baru sadar sesadar-sadarnya bahwa kata-kata itu beberapa kali didengungkan. Bak seperti mantra saja. Apa Disney ingin membuat Cinderella versi 2015 ini seperti Frozen (yang terkenal lewat 'let it go'-nya)? Apa kata-kata itu semacam jargon? Sehingga tiap mendengar kata-kata itu dimana pun, kita akan selalu terkenang pada Cinderella yang tokoh utamanya itu diperankan oleh Lily James. Hmm, hanya Tuhan dan orang-orang Disney yang tahu. Let's see seberapa kuat pengaruh dari "Having courage and be kind" tersebut. 

Soal story line, aku kurang begitu terkesan. Soal sinematografi, acungi jempol deh. Apalagi segi visualnya yang keren sekali. Jadi tampak seperti film animasi 3D.  Efek visualnya luar biasa. Efek spesialnya juga mantap. 

Oh yah, satu lagi, Cinderella versi 2015 ini ada satu twist yang bikin kalian tercengang. Pun versi ini lebih jenaka. Alhasil kalian tak tergerus oleh suasana nostalgia atau yang melankolis begitu. 

Kesimpulan demi kesimpulan, kalau mau menonton, yah silahkan. Terlebih kalau kalian merasa Disney-mania. Silahkan buktikan sendiri kata-kataku dalam artikel ini. Silahkan bernostalgia deh. Silahkan nikmati juga segala efek yang super-duper keren. 


RATE: 80 / 100



Genre: Family
Sutradara: Kenneth Branagh
Pemain: Lily James Richard Madden Cate Blanchett Stellan Skarsgård Holliday Grainger Derek Jacobi Helena Bonham Carter,... 
Durasi: 112 menit 
Tanggal tayang: 13 Maret 2015 (Amerika Serikat)
22 Aug 2016  Anonymous 0

"Let It Flow," kata si pembuat "Hotel Transylvania 2"


Ada sedikit penyesalan saat menonton "Hotel Transylvania 2" ini. Sebabnya, "Hotel Transylvania 2" ini merupakan sekuel dari "Hotel Transylvania" yang rilis pada 28 September 2012, yang mana Nuel belum pernah menontonnya sama sekali. Keduanya itu saling berhubungan. Alhasil, ada beberapa adegan di "Hotel Transylvania 2"yang membuat Nuel terbengong-bengong. Tapi, demi semata-mata menyuguhkan review demi review buat para pengunjung GETO KATANYA, okelah Nuel review "Hotel Transylvania 2" sesuai kapasitas Nuel saja. 

Mari kita abaikan fakta bahwa "Hotel Transylvania 2" ini merupakan sebuah sekuel dan masih ada keterikatan dengan film sebelumnya!

Dennis yang diselamatkan oleh Papa Dracula dari kegegabahannya.
"Hotel Transylvania 2" ini (masih) bercerita tentang Mavis--si anak vampir--dengan Johnny, yang seorang manusia. Mereka di sekuel ini diceritakan menikah dengan pesta pernikahan yang unik. Setelah menikah, keduanya--eh ralat, maksudnya, si Mavis mengandung dan memiliki anak yang diberi nama Dennis. Sayang Dennis sedikit mengecewakan untuk Papa Dracula. Bagaimanapun Dennis ini setengah manusia. Wajar kalau Dennis ini tak tumbuh sesuai harapan Papa Dracula. Ambil contoh, belum tumbuh taring di mulut Dennis. Dan, Papa Dracula ingin menjadikan Dennis vampir yang disegani. Sialnya, Mavis tak setuju. Mavis lebih ingin Dennis tumbuh sebagai anak manusia dan besar di lingkungan manusia. Konflik antara ayah-anak pun muncul di sini.

Singkat cerita, Papa Dracula yang menang. Dennis tetap di hotel, sementara kedua orangtuanya bertandang ke rumah orangtua Johnny. Oleh Papa Dracula dan teman-teman monsternya (Frank, Wayne, Griffin, Murray), Dennis dibawa ke beberapa tempat demi menjadikan anak itu vampir (atau monster) yang disegani. Ujian demi ujian dilakoni. Namun tetap saja, gagal sepertinya. Dennis masih lebih menyerupai manusia. Itulah yang pada akhirnya bikin Papa Dracula kecewa, menyerah, dan akhirnya belajar menerima Dennis apa adanya.

Sementara itu, Mavis dan Johnny bergegas kembali ke hotel akibat tayangan video di sebuah situs streaming. Bagaimana tidak pulang jika melihat anaknya jatuh dari menara yang tinggi sekali. Sesampai di hotel, Mavis memarahi ayahnya. Muncul lagi konflik ayah-anak, yang kemudian berujung pada datangnya kakek-nenek Mavis untuk melihat cucunya. Yang ini bagian berbahayanya. Sebab neneknya ini jauh lebih berbahaya dan tak terkontrol daripada kakeknya. Belum lagi keluarga Johnny datang lagi ke hotel.

Blessing in disguise! Gara-gara insiden dengan nenek Mavis, Dennis tumbuh sesuai harapan Papa Dracula. Tumbuh taring juga. Kakek Mavis lalu perlahan sadar bahwa manusia bisa juga jadi teman. Papa Dracula pun sadar untuk tak terlalu memaksakan keinginan. Biarlah Dennis tumbuh apa adanya tanpa dipaksakan.

Seberapa menarik "Hotel Transylvania 2"?
Seperti kebanyakan animasi Amerika Serikat, "Hotel Transylvania 2" ini pun sama. Sama-sama bisa ditonton oleh semua umur dan semua kalangan. Untuk anak-anak, "Hotel Transylvania 2" ini cukup aman untuk ditonton (selama ada bimbingan orang dewasa). "Hotel Transylvania 2" ini hiburan yang luar biasa lucu dan menarik untuk anak-anak. Untuk orang dewasa, jika tak dilihat sebagai sekadar hiburan, "Hotel Transylvania 2" ini cukup filosofis pula. Sebab film ini mengajarkan pada kita untuk tak terlalu memaksakan sesuatu. Ada baiknya membiarkan sesuatu itu seperti sungai yang mengalir (bahasa kerennya, let it flow). Akan timbul keajaiban jika tak terlalu dipaksakan. Pun, "Hotel Transylvania 2" mengajarkan  kita untuk lebih mempercayai kata hati sendiri. Sama seperti Dennis yang tidak takut waktu dijatuhkan dari menara yang tinggi. Well, Papa Dracula langsung menyelamatkannya.

Alur ceritanya lumayan dijalin apik. Walau untuk yang belum menonton prekuel-nya, mungkin bisa jadi masalah tersendiri selama menonton "Hotel Transylvania 2". Tapi seperti yang dikatakan Nuel sebelumnya, abaikan saja. Keterikatannya juga tak terlalu signifikan dan bisa diabaikan. Kalian juga bisa mengabaikan beberapa scene yang agak-agak datar. Pula dengan adegan dan dialog yang membingungkan. Sebab"Hotel Transylvania 2" masih layak direkomendasikan buat jadi tontonan di kala senggang.

Pokoknya kalian harus menonton animasi ini. Lucu, menghibur, serta bikin tertegun pula. Ada satu adegan yang Nuel favoritkan. Yah seperti yang ada di gambarnya. Saat Papa Dracula membawa Dennis ke atas menara, lalu dijatuhkan, sembari berharap Dennis bisa berubah jadi kelelawar dan terbang. Teman-teman Papa Dracula sudah mewanti-wanti untuk segera menyelamatkan. Eh Papa Dracula malah begitu keras kepalanya. Yang menariknya lagi, Dennis tampak begitu mempercayai kakeknya dari awal percobaan hingga yang terakhir.  Tokoh bernama Dennis ini sepertinya sebuah magnet tersendiri dalam "Hotel Transylvania 2" ini.


RATE: 85 / 100



Genre: Family
Produksi: Sony Pictures Animation
Distributor: Columbia Pictures
Produser: Michelle Murdocca
Sutradara: Genndy Tartakovsky
Pengisi suara: Adam Sandler, Andy Samberg, Selena Gomez, Kevin James, David Spade, Steve Buscemi, Keegan-Michael Key, Molly Shannon, Fran Drescher, Mel Brooks,...
Bahasa: Inggris
Durasi: 89 menit
Tanggal Rilis: 25 September 2015
15 Oct 2015  Nuel Lubis, Author "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" 0

"Midnight Sun": Salju yang Tak Selamanya Dingin






Jika dilihat dari posternya, entah mengapa penulis teringat pada "Alaska" yang rilis pada tahun 1996. Film yang disebutkan terakhir itu bercerita mengenai dua orang anak yang berkelana hingga Alaska demi menyelamatkan sang ayah yang berjuang hidup dan mati di sana. Mereka melakukan itu karena tak mau kehilangan ayahnya. Apalagi ibu mereka sudah meninggal sejak si bungsu lahir.

Nah, kurang lebih begitulah "Midnight Sun"  bercerita. Premisnya agak mirip dengan "Alaska". Tak hanya itu sebagian kecil dari story line-nya pun sama. Namun jangan langsung menghakimi sebuah film karena kesamaan beberapa unsur. Tak selamanya memiliki kesamaan itu identik dengan plagiarisme (baca: tukang tiru). Tahan dulu. Sebab "Midnight Sun"  ini juga layak ditonton.

"Midnight Sun"  bercerita tentang seorang pemuda bernama Luke yang hidup di rumah bibinya bersama-sama dengan kakaknya, Abbie. Ibunya tak bersama dia dan kakaknya karena alasan pekerjaan. Ayahnya sudah lama meninggal akibat suatu insiden yang nanti saat menjelang ending, penonton bakal tahu. Tapi yang jelas, apa yang dilakukan Luke terhadap seekor anak beruang kutub itulah yang kurang lebih dilakukan pula oleh ayahnya. Mereka rela berkorban demi pihak lain.

Suatu ketika, seperti yang sudah dijelaskan, Luke bertemu dengan seekor beruang kutub betina. Di matanya, si beruang kutub itu jinak. Namun tidak untuk beberapa aparat yang menangkapnya. Dalam hati kecilnya, Luke tak tega. Namun apa daya, dia hanya seorang remaja yang pendapatnya sering dianggap remeh. Si beruang kutub itu dibawa pergi.

Tapi ternyata si beruang kutub itu membawa anaknya. Di salah satu ruangan dari gedung kosong, Luke bertemu dengan anaknya. Sekonyong-konyong Luke merawatnya hingga beranjak besar. Awalnya ia tak menemui kendala. Hingga akhirnya bibinya mendapati tahu, lalu bersikeras menyuruh Luke membuangnya. Luke tak setega itu. Namun dia juga masih menaruh respek ke bibinya. Jalan keluar lain: si anak beruang kutub itu dibawa ke sebuah penitipan yang dijaga oleh seorang Inuit kenalan ayahnya yang bernama Muktuk.

Walaupun demikian itu hanya sementara. Berikutnya muncul ide bahwa Luke harus membawa anak beruang kutub itu induknya yang sudah dipulangkan ke habitatnya yang berada di utara. Mendapat tentangan sih. Luke tak gentar. Ia malah pergi sendiri terus menuju utara sambil membawa si anak beruang kutub yang diberi nama Pazoo. Rintangan demi rintangan telah dilaluinya. Luke tetap bersikeras melanjutkan perjalanannya. Mulai dari badai salju, bertemu pemburu liar, hingga nyaris mati. 

"Midnight Sun" ini memang film keluarga. Nyaris tak ada satu adegan pun yang layak disensor demi kepentingan pendidikan anak-anak. Tak ada sex scenes. Tak ada adegan-adegan sadis pula. Aman ditonton bersama anak-anak. Malah anak-anak bisa dibiarkan menonton sendiri. 100% aman. Film ini justru menginspirasi mereka untuk jangan takut mengikuti kata hati mereka walau mendapat tentangan dan rintangan. Dan bahwa menolong itu--selama positif tujuannya--tak salah untuk dilakukan.

Penulis suka dengan ending-nya. Sangat mengharu-biru. Lumayan mengena di hati. Kemampuan akting pemain nyaris tak ada satu pun yang mengandung cacat cela. Termasuk dengan binatang-binatang yang terlibat (meskipun beberapa terlihat hasil dari computer graphic). Binatang-binatang itu sungguh terlatih. Soal alur, tak munafik pula, filmnya agak membosankan di tengah-tengah penayangan. Terlihat alurnya berjalan begitu lambannya. Kurang konflik yang bisa memaksa tiap penontonnya mau menyelesaikannya sampai credit title.

Selain itu, visual dari "Midnight Sun" itu lumayan ciamik. Memang ada beberapa semacam noda yang muncul di kamera. Itu mengganggu sejujurnya. Namun setelah dipikir-pikir, noda-noda seperti itulah yang membuat tiap penonton jadi merasa seperti di daerah salju betulan. Penggunaan angle-nya lumayan luar biasa. 

Kalau bicara soal twist, "Midnight Sun" punya lumayan banyak. Cukup tak bisa ditebak alurnya walau beberapa ada mudah tertebak. Tapi mari kita kembali ke genre film ini yang sebuah film keluarga. Mungkin tujuan film ini untuk sebuah perenungan tentang pentingnya menolong pihak-pihak yang membutuhkan. Pula tentang pentingnya mengikuti nurani sendiri.

Nilai plus lainnya dari "Midnight Sun" ialah penonton diajak untuk mengenali beberapa hal soal Inuit. Tak gamblang memang. Tapi lumayanlah kita--sebagai penonton--jadi tahu soal adat istiadat, kebiasaan, dan budaya Inuit.

Last but not least, film ini cocok ditonton bareng keluarga di momen-momen liburan yang istimewa. Ada satu quote penting yang intinya seperti ini:

"Tak peduli akan diremehkan oleh orang lain, aku lebih memilih untuk mengikuti kata hatiku sendiri." 

"Midnight Sun" memang film yang sederhana, tapi cukup untuk ditonton. Bukan film sembarangan. Dan, ada satu yang ingin disampaikan. Bahwa salju tak selamanya dingin. Terkadang salju bisa menghangat. Apalagi jika ada perbuatan baik dilakukan di atas hamparan salju-salju. 


RATE : 85 / 100



Genre: Family
Produksi: Hyde Park Entertainment, Imagenation Abu Dhabi FZ, Media Max Productions, Original Pictures, Rob Heydon Productions 
Distributor: Prorom Media-Trade, Alliance Atlantis Communications, Lumix Media, Medusa Distribuzione, Pinema  
Produser: Rob Heydon dan Karine Martin
Sutradara: Roger Spottiswoode dan Brando Quilici
Pemain: Dakota Goy, Goran Visnjic, Bridget Moynahan, Kendra Timmins, Russell Yuen, Duane Murray,... 
Bahasa: Inggris
Durasi: 120 menit
Tanggal Rilis: 21 September 2014
18 Jul 2015  Nuel Lubis, Author "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" 0