-->
Showing posts with label Komedi-Romantis. Show all posts
Showing posts with label Komedi-Romantis. Show all posts

Karena Seorang Gadis TK, Dua Pemuda Menemukan Cinta Sejatinya















Bagaimana bisa seorang anak kecil mempertemukan dua orang bujangan dengan cinta sejatinya masing-masing? Yah itulah yang terjadi dengan Tang Wen Di, seorang gadis berusia TK, yang tak memiliki ibu, namun memiliki dua ayah sekaligus. Segalanya bermula saat kedua ayah Tang Wen Di, Tang Xiang Xi dan Wen Zen Hua tengah patah hati saat gadis pujaan hati mereka menghilang begitu saja. Eh begitu ada kabarnya, gadis itu ternyata meninggal dunia dan malah memberikan seorang bayi kedua orang bujang lapuk tersebut. Sejak saat itulah, Wen Di hidup sebagai gadis dengan dua orang ayah asuh.

Awalnya berat. Wen Di sering diejek oleh teman-temannya soal dua ayahnya tersebut. Maklum saja rata-rata kan, normalnya juga, anak itu hidup dengan orangtua yang berbeda jenis kelamin: ayah laki-laki dan ibu perempuan. Belum lagi cibiran dari orangtua dari teman-temannya. Itu sebuah pemandangan aneh melihat Wen Di yang dikawal oleh dua ayah tanpa seorang ibu. Wen Di sering bertanya di manakah ibunya. Kedua ayahnya awalnya berat menjawab bahwa ibunya sudah lama meninggal sejak melahirkannya.

Lambat laun Wen Di terbiasa. Malah gara-gara anak TK itulah, kedua ayahnya menemukan cinta pengganti almarhumah ibunya. Daddy Wen Zhen Hua, seorang pengacara urakan nan cassanova, berlabuh di hati guru Wen Di yang bernama Fang Jing-Zhu, yang tegas, galak, dan sama-sama urakan. Sementara Papi Tang Xiang Xi yang kalem, pendiam, dan sangat mellow, berlabuh di hati seorang seniman perempuan bernama Wu Yong-Jie. Tak berbeda dari Wen Di, kedua ayahnya itu pun sering mendapatkan stigma negatif. Mereka sering dituduh yang bukan-bukan. Salah satunya, dituduh sebagai pasangan gay yang mengadopsi seorang anak. Yah tapi itulah manusia yang hobi menghakimi tanpa mau tahu alasannya.



RATE 100


Genre: Romance, Komedi-Romantis
Produser: Xie Rui Yun, Chen Ji
Sutradara: Liu Jun Jie
Pemain: Leroy Young, Lin Yo Wei, Megan Lai, Liang Jin, Xie Yu En,...
Bahasa: Mandarin, China Taipei
Durasi: rata-rata 60 menit per episode
Jumlah Episode: 73 episode
Tanggal Rilis: 26 Maret 2013 - 22 Juli 2013






19 Jun 2017  Nuel Lubis The Writer (IG @nuellubis) 0

Parodi Bahasa Inggris dalam "I Fine Thank You"

Kadang sebuah film romance bakal terasa lebih romance, jika ada bumbu komedinya. Entah mengapa, untuk aku sendiri, film yang seratus persen romance itu biasanya membosankan--secara alur. Di Indonesia, ambil contoh "Dealova". Di Amerika, bisa dicek "Cruel Intention". 

Ada alasan tersendiri mengapa alasan itu menyeruak. Personally, dari hasil pengalaman serta pengamatan, segala kisah cinta dua anak manusia itu pasti selalu ada bumbu-bumbu. Entah itu bumbu komedi, bumbu seks, bumbu horor, hingga bumbu slasher. Aih, mendadak jadi teringat sejumlah kasus pembunuhan dengan motif cemburu di dalamnya. 

Oke abaikan kalimat terakhir di paragraf sebelumnya. Kita balik ngomongin film romance lagi--terlebih lagi  soal comedy-romance. 

Bicara soal comedy-romance, sepertinya Thailand itu jagonya. Masih terngiang dengan jelasnya beberapa film bergenre comedy-romance dari negara Siam tersebut. Amerika atau Korea mah lewat. Perpaduan antara bagian romance dengan komedinya itu luar biasa. Bagaikan rotan dengan tumbuhan yang dililitnya. Terlihat intim dan sukar dilepaskan. Sungguh membaur, hingga terlihat betul seperti sebuah kisah nyata. 

Baru-baru ini, aku baru saja menemukan film bergenre comedy-romance dari Thailand. Bukan film lama. Masih baru hitungannya beredar di bioskop. Langsung saja, film itu berjudul "I Fine, Thank You, Love You". 

Posternya sungguh menarik. Terlebih lagi pada tagline-nya: A gramatically incorrect love story. Sebuah kisah cinta yang berhubungan dengan dunia linguistik. Karena memang pusat ceritanya itu pada seorang guru bahasa Inggris.

Diceritakan seorang perempuan guru bahasa Inggris bernama Pleng, sehabis mengajar di sebuah tempat kursus, ia didatangi oleh mantan muridnya, seorang perempuan Jepang yang bernama Kaya. Si Kaya ini datang untuk melepas kangen, berterimakasih, pula mencurahkan isi hati soal kisah asmaranya yang dialaminya bersama seorang pria Thai bernama Tui. 

Anehnya, ini juga yang membuat Pleng mengernyitkan dahi, baik Kaya maupun Tui ini sama-sama memiliki kesulitan berkomunikasi. Kaya hanya bisa bercuap-cuap dalam bahasa Inggris dan Jepang. Sementara Tui cukup puas dengan bahasa Thai yang memang bahasa ibunya. Jika kalian selidiki siapa pemeran Kaya-nya, pasti paham mengapa mereka bisa menjalin hubungan. Pemerannya saja identik dengan dunia JAV (baca: Sora Aoi), otomatis pasti si Kaya ini jadian dengan Tui karena alasan seks. Yup, itu alasannya--dan membuat Pleng semakin bengong. 

Oleh Kaya, Pleng dapat tugas khusus. Jadi perpanjangan tangan perempuan Jepang itu mengatakan bahwa si Kaya ini ingin putus. Oke, Pleng bisa terima. Namun tidak dengan Tui. Dia masih dongkol. Gara-gara tak bisa melampiaskannya ke Kaya--akibat persoalan bahasa, Pleng yang jadi tumbal. Semenjak pertemuan di kafe, Tui terus meneror Pleng. Teror itu semata dilakukan hanya agar Pleng mau mengajari Tui bahasa Inggris. Semuanya dilakukan demi Kaya; demi bisa mengobrol secara lancar. 

Mungkin karena terintimidasi, Pleng menyanggupi. Sejak itulah, Tui ditutori oleh Pleng. Sejak itu pula, Pleng stress. Bagaimana tak stress jika punya murid seperti Tui yang keras kepala. Diajari ini, malah punya opini sendiri. Diajak bicara menggunakan bahasa Inggris, Tui malah bersikukuh menggunakan bahasa Thai. 

Awalnya Pleng sempat frustasi. Saking frustasinya, perempuan yang di cerita ini bakal naksir sama muridnya, sampai mengejek habis-habisan Tui. Tui jadi kesal. Namun karena rasa cintanya ke Kaya, Tui masih tetap ngotot untuk terus belajar bahasa Inggris. Lalu Pleng pun menawari alternatif lain. Yaitu, Tui disuruhnya untuk menghapal jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kurang lebih bakal ditanyakan saat wawancara di sebuah perusahaan Jepang yang ada di Thailand. 

Ceritanya makin seru saja setelah adegan tersebut. Tui pun makin gencar untuk bisa menguasai bahasa Inggris. Sementara Pleng, perempuan ini tengah disibukan dengan kisah asmara yang baru saja menghampirinya. Disadari atau tidak, kisah asmara Pleng begitu mirip dengan cerita Cinderella. Namun lambat laun, Pleng merasa bahwa dirinya tak memiliki kecocokan dengan lelaki yang merupakan muridnya tersebut. Terlalu lebar gap-nya. 

Begitupun dengan Tui. Saat hari H-nya, lelaki ini--di kala tes wawancara--malah terbayang-bayang wajah Pleng. Segala pertanyaan bisa ia jawab karena teringat segala kata-kata dalam bahasa Inggris yang pernah diucapkan guru bahasa Inggris. Akhirnya, sontak Tui tersadar. Cintanya sudah berubah. Bukan lagi kepada Kaya, namun nyosor ke Pleng. Epiknya, dasar Tui konyol, pertanyaan terakhir yang merupakan pertanyaan paling penentu malah ia jawab secara asal saja. Jelas ia ditolak. 

Alurnya lumayan. Lumayan catchy. Konfliknya mengalir deras begitu saja. 75% bikin tertawa, 25% bikin tercenung. Konyol tapi cukup filosofis. Perjuangan Tui mengejar Kaya itu sungguh luar biasa. Pernah Tui kebablasan berujar ke Pleng seperti ini: "Kalau aku memang begitu tololnya belajar bahasa Inggris, mungkin lebih baik aku belajar bahasa Jepang saja," 

Humor yang terkandung dalam film ini juga lumayan. Kadang sutradaranya, Mez Tharathorn, juga menyisipkan humor-humor non-slapstick. Dialognya dibikin lucu senatural mungkin. Tak terkesan kaku. Ada humor slapstick dimana salah satu teman Tui dipasangi kembang api di bokong saat pesta kecil-kecilan. Ada pula humor verbal ala stand-up comedy. Dan memang, sampai kapanpun, persoalan bahasa akan selalu terus menggelitik kita. 


Secara akting, pula tak ditemukan cacat cela. Nyaris seluruh pemain berakting yang senatural mungkin. Termasuk si bintang JAV papan atas, Sora Aoi. Di sini, kemampuan akting seorang Sora memang patut diacungi jempol. Ternyata dia tak hanya bisa ber-ah uh ah uh, namun kemampuan aktingnya bisa-lah disamakan dengan aktris ternama asal negaranya, Keiko Kitagawa. 


Overall, bagi penikmat film-film Thailand, terutama yang komedi-romantis, film ini amat sayang dilewatkan. Untuk yang bukan penikmat, tetap saja harus menontonnya. Kapan lagi menonton sebuah film dimana kita bisa mengetahui aksen Thai dalam mengucapkan bahasa Inggris.  



RATE: 90 / 100


Genre: Comedy-romance
Sutradara: Mez Tharathorn
Pemain: Sora Aoi, Puttachat Pongsuchat, Preechaya Pongthananikorn, Sunny Suwanmethanon,...
Bahasa: Thailand, Inggris
Tanggal rilis: 10 Desember 2014
22 Aug 2016  IG @getokatanya 0

Sentilan "PK" dalam Kehidupan Beragama

Selama ini kita melihat film-film India itu begitu identik dengan drama musikal dan tari-tariannya yang seringkali mengundang birahi. Identik pula dengan kisah cinta yang selalu berakhir dengan sembunyi di balik pohon, dimana yang perempuannya itu iseng memainkan sarinya. Atau pun identik dengan Inspektur Vijaj-nya. 

Selama ini kan memang seperti itu kita mengenal film-film India. Kebanyakan yang dipertunjukan ke kita, yah yang seperti itu. Film-film India sudah begitu kita kenal sebagai film-film yang mengusung tema cinta dengan adegan joget-jogetan di antara pepohonan, lalu sang Inspektur Vijaj datang mengacau. Kurang lebih seperti itulah. Maaf kalau salah. 

Iya, maaf kalau salah. Karena ternyata, di balik itu semua, masih banyak film India yang anti-mainstream. Contoh: "My Name is Khan", "3 Idiots", dan "Ra-One" yang mana sineas Bollywood sana ingin menunjukan mereka bisa menciptakan film-film yang harus menggunakan efek spesial. Selain itu, masih ada satu film lagi.

Film ini begitu spesial. Spesialnya itu karena tema yang diusung. Wow, luar biasa. Untuk level Asia, amat jarang kita menemukan film-film bertema agama. Apalagi yang di dalamnya itu membahas soal pluralisme dalam beragama. Dikupas pula dengan sudut pandang yang unik. Mari berikan aplaus untuk Rajkumar Hirani, sang sutradara dan penulis skenario (yang ini bareng Abhijat Joshi) film PK yang rilis pada Desember 2014 lalu.

Menonton film PK ini sungguh menyentil sekali terhadap perilaku umat beragama akhir-akhir ini. Rasanya seperti ditampar saat dipertunjukan adegan dimana PK berusaha meminta bantuan ke beberapa orang untuk menemukan alatnya yang dicuri, eh tapi ia malah mendapatkan jawaban yang mengecewakan. Sebagian besar orang mengatakan, "Coba datanglah ke Tuhan," Mengesalkan yah jawaban seperti itu. Sama seperti sekarang ini waktu kita sedang bertanya sesuatu, terus yang bersangkutan menjawab, "Coba tanya ke Mbah Google." 

Apa-apa Tuhan, apa-apa Tuhan. Manusia jadi kurang pro-aktif dalam membantu sesama. Dengan entengnya mereka menjawab, "Biarkan Tuhan yang melakukannya." -- lalu melengos begitu saja entah kemana. Padahal kalau bisa membantu, kenapa harus melibatkan Tuhan? Toh Tuhan itu juga bukan pelayan kita. Justru kita semua inilah yang pelayan Tuhan. Seharusnya kita lebih pro-aktif menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk membuat dunia ini lebih baik lagi. 

Lebih menjengkelkan lagi saat manusia yang sok jadi pahlawan kesiangan untuk Tuhan-nya masing-masing. Padahal memerhatikan dan menolong sesama pun mereka abai. Tuhan itu tak perlu dibela. Tuhan tak selemah itu. Ada baiknya manusia lebih concern pada urusan membuat dunia jadi tempat yang lebih baik bagi siapapun. 

Tak hanya sampai di situ. Duo Rajkumar-Abhijat juga menyoroti ulah sejumput oknum beragama yang oportunis. Iya, ajaran agama yang mengandung kebaikan itu dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Seperti PK yang dikerjain pemilik kios agar mau membeli pernak-pernik agama yang dijual. Atau saat PK yang mulai mencurigai Tapasvi -- seorang pemimpin sebuah kelompok agama -- telah melakukan penipuan dengan memanfaatkan ketakutan orang lain. 

Sempat pula duo Rajkumar-Abhijat ini menyoroti yang klasik dan selalu seru untuk dibahas. Soal pernikahan beda agama dong. Film satire ini kan dimulai dari sebuah kisah cinta beda agama dan budaya antara Jaggu yang penganut Hindu dan Sarfraz yang asli Pakistan. Keduanya harus berpisah, yah karena perbedaan itu. Dan itu menyebabkan Jaggu menjadi begitu sensitif terhadap isu-isu keagamaan. 

Tapi memang, di luar segala topik agama yang diusung, daya tarik film ini berasal dari tokoh bernama PK. PK ini merupakan seorang alien yang di planet asalnya itu terbiasa berkomunikasi dengan pikiran dan hidup berbugil ria. Dia datang ke Bumi untuk tujuan melakukan riset. Dan begitu kagetnya dengan kehidupan yang ada di planet Bumi. Sungguh berbeda dengan yang ada di planet asalnya. 

Bak seorang anak kecil yang masih polos, PK terperangah melihat manusia-manusia Bumi (orang India tepatnya) yang begitu tunduk-blek sama ajaran agamanya. Saking tunduknya, mereka sampai tak melihat ada ketidakberesan yang terjadi. Juga bingung dengan sistem moneter di Bumi. Manusia Bumi begitu memuja  yang namanya uang. Segalanya lancar jika ada uang (Jleb banget pas adegan Jaggu menyogok polisi demi membebaskan PK). 

Gara-gara penggambaran tokoh bernama Jaggu ini, aku sempat merasa Rajkumar (atau mungkin Abhijat) ini bukan orang biasa. Karakter PK sungguh terlihat sekali seperti seorang alien yang baru kali pertama mengunjungi Bumi. Tampak seperti kesan seorang imigran yang baru kali pertama mengunjungi Indonesia tanpa dibekali referensi sama sekali. Luar biasa memang hasil riset dan observasi Rajkumar dan Abhijat ini. 

Film PK ini memang patut diacungi jempol atas keberaniannya mengangkat topik paling sensitif sedunia (baca: agama). Pun perlu diapresiasi atas penggambaran tokoh PK-nya yang sungguh mirip dengan seorang alien. Namun film ini tak terlalu begitu sempurna. Mulai paham mengapa IMDb hanya berani kasih nilai 8,7.

Kalau menurutku sih, penyebab PK ini agak jauh dari kata sempurna itu karena masih banyaknya scene yang terkesan dipaksakan. Kita tahu, kebanyakan film  India itu berdurasi di atas dua jam. Jarang yang berdurasi di bawah itu. Dan di sinilah terlihat Rajkumar ini tak seratus persen anti-mainstream. Ia belum berani keluar jalur. Bahkan ia pun tak berani menghilangkan unsur esensial dari sebuah film India. Soal joget-joget dan nyanyi-nyanyi pastinya. Walaupun adegan nyanyi-nyanyinya itu dibuat berbeda dari kebanyakan film India yang sepertinya identik dengan tari seronoknya. 

Seharusnya Rajkumar lebih berani untuk membuat film India yang lebih berbeda dari kebanyakan film India yang sudah kadung dikenal khalayak. Seperti membikin film India dengan durasi di bawah dua jam. Jujur, film PK ini sebaiknya berdurasi sekitar satu setengah jam -- atau satu jam empat puluh menitan. Itu durasi yang tercocok dengan tema yang diusung. 

Dengan memaksakan harus berdurasi selama itu, tak heran banyak adegan yang terkesan dipaksakan. Ambil contoh saat Jaggu berusaha menghubungi Sarfraz saat live di sebuah acara televisi. Atau adegan pemboman kereta waktu PK hendak menemui teman Bumi-nya. Beberapa adegan membuat ending film PK menjadi kurang greget. 

But, it's okay, kekurangan itu tetap tak mengurangi kecemerlangan premis dari PK. Film PK tetap menjadi film India yang wajib tonton untuk sekarang ini.  


RATE: 90 / 100



Genre: Komedi-Romantis, Religi
Sutradara: Rajkumar Hirani
Pemain: Aamir Khan, Anushka Sharma, Sushant Singh Rajput, Ram Sethi,...
Durasi: 153 menit
Bahasa: India dengan campuran Inggris
Tanggal Rilis: 19 Desember 2014


22 Aug 2016  IG @getokatanya 0

"Koe Koi" : Cinta pada Pendengaran Pertama

Diangkat dari sebuah komik. Ceritanya mengenai Yoshioka 
Yuiko yang duduk di kelas 1 SMA. Suatu hari, dia sakit yang pada saat itulah, dirinya mendapatkan telepon dari ketua kelasnya, Matsubara. Hanya dengan mendengar suaranya saja, hati Yuiko campur aduk. Jatuh cinta pada pendengaran pertama mungkin.

Hari pertama masuk sekolah lagi, Yuiko bertemu dengan Matsubara yang menutupi wajahnya dengan kardus yang digambari emoticon tersenyum. Mungkin karena sudah terlanjur cinta, Yuiko bisa tahu siswa berkepala kardus itulah Matsubara. Well, cinta bisa menjadi semacam detektor. Walau sebelumnya belum terlalu mengenali, Yuiko bisa tahu itu Matsubara. Bahkan Yuiko membela Matsubara mati-matian dari para pengganggu. Luar biasa memang kekuatan cinta itu!

Sayangnya Matsubara lagi dekat dengan dengan siswi yang anak pemilik sekolah. Yuiko pun lagi ditaksir ketua OSIS-nya. Keseruan drama ini, magnet utamanya adalah saat para penontonnya--selain para pemainnya--harus menebak wajah asli Matsubara. Tembemkah? Jenggotankah? Atau poloskah wajahnya? Yah walaupun Yuiko tak terlalu mempedulikan soal wajah asli Matsubara. Meskipun rasa penasaran itu akan selalu ada.

Drama yang lucu sekali untuk meregangkan otak! Tak terlalu serius memang. Banyak adegan tak logisnya. Namun ini kan drama komedi. Tujuannya untuk menghilangkan stress.



RATE 85


Genre: Komedi-Romantis
Produksi: TV Tokyo
Sutradara: Katsutoshi Hirabayashi, Hiroaki Yuasa, Tadaaki Horai
Pemain: Mei Nagano, Ryo Ryusei, Dori Sakurada,.... 
Bahasa: Jepang
Durasi: rata-rata 45 menit per episode
Jumlah Episode: on going (saya baru menonton hingga episode 3. Itu juga masih berlanjut)
Tanggal Rilis: 8 Juli 2016 - .....











21 Aug 2016  Unknown 0

Gambaran Dunia Hiburan dalam Saba Doll




Pernah diketahui dari suatu sumber, di Jepang, profesionalitas itu harus dijunjung tinggi. Orang harus bisa memisahkan mana urusan pekerjaan, mana urusan non-pekerjaan. Nah, drama Jepang yang satu ini juga berbicara soal filosofi yang satu ini.

Oke, jika kita menilik episode pertama dari Saba Doll, mungkin bagi yang kurang terbiasa (Atau anti!), kalian akan menghentikan untuk menonton lebih lanjut sampai episode 12, yang mana episode terakhirnya. Sebab bertajuk idol-idol-an. Apalagi sang pemeran utama, Mayu Watanabe memang seorang idol. Ia member AKB48 (Silakan eneg buat yang bosan mendengar satu kata laknat tersebut!), idol group paling terkenal seantero Jepang. Tak salah jika kalian berpandangan seperti itu. Itu hak kalian mau menggemari yang mana juga.

Tapi sebaiknya tahan dulu segala subjektivitas kalian. Kalau kata pepatah: "Jangan menghakimi buku dari sampulnya saja!" Drama yang kali pertama keluar pada 13 Januari 2012 ini layak sekali untuk kalian tonton. Yah walau temanya cukup klasik dan sering dijadikan ide cerita untuk film atau serial televisi.

Yup, drama ini mengangkat tema kehidupan seorang selebritas. Tak usah lihat hingga ke Jepang sana, di Indonesia pun, pernah beberapa kali para pelaku showbiz mengangkat tema ini ke dalam sinetron atau film. Jangankan Indonesia, Amerika Serikat juga pernah. Contoh, film animasi Bolt, dimana menceritakan tentang seekor anjing yang jadi pemeran utama dalam sebuah film, yang dicelikkan matanya setelah tak sengaja keluar dari studio.

Tak hanya Indonesia atau Amerika, negara tetangga Jepang juga sama. Korea pernah mengangkat tema ini ke dalam bentuk film. Salah satunya, film Mr.Idol. Soal perjuangan membentuk sebuah boyband.

Kembali ke soal Saba Doll -- yang amat sangat wajib tonton. Ada beberapa pesan terselubung yang kalian semua perlu tahu.





Saba Doll ini bercerita tentang Usa Shijimi, seorang wanita guru berusia 38 tahun, yang semenjak kanak-kanak, dirinya sudah bercita-cita menjadi seorang idol. Sayang, nasib baik tak kunjung datang. Ia gagal dan akhirnya menjadi seorang guru. Namun siapa sangka, di usianya yang sudah kepala tiga, dirinya seolah diberikan kesempatan untuk mewujudkan cita-cita masa kanak-kanak lewat sebuah makanan.

Lewat kudapan yang mirip risol, Shijimi yang sudah tua bisa berubah menjadi seorang gadis muda berusia 17 tahun. Maka dimulailah petualangan Shijimi sebagai seorang idol dengan menggunakan identitas palsu sebagai Watanabe Mayu. Dan sebagai seorang idol atau selebritas, Shijimi tahu bahwa fans pasti harus mengetahui beberapa informasi soal kepribadian barunya tersebut; seperti makanan favorit, clothing line favorit, hingga anime favorit. Dengan bantuan sang adik, ia lalu menjalani kehidupan sebagai seorang idol dan bagaimana harus bertingkah.

Namun ternyata kehidupan seorang idol atau selebritas itu keras. Lebih keras dari dugaannya selama ini. Dulu ia membayangkan betapa enaknya menjadi seorang idol yang begitu dipuja-puja. Kilauan itulah yang dilihatnya dari kehidupan menjadi seorang idol. Ia baru menyadari bahwa kilauan itu hanya di permukaan saja. Jika menyelami lebih ke dalamnya, kehidupan yang sudah dan tengah ia jalani tersebut luar biasa keras. Pertama, ia harus menjalani serentetan jadwal yang cukup padat dan sudah diatur oleh manager atau agency-nya yang tak jarang menekannya habis-habisan. Kedua, dunia showbiz -- atau entertainment -- rentan akan skandal. Tidak ada yang namanya privasi di dunia tersebut.

Ia juga seperti diwajibkan untuk selalu tersenyum dan tak boleh menunjukan perasaan ketidaksenangannya. Lagian, fans mana coba yang mau melihat idolanya bermuram durja. Mau mengidolakan siapapun, yang namanya fans selalu ingin melihat idolanya tersenyum riang -- atau berada dalam kondisi terbaik.Seorang idola pun dituntut untuk bisa menjaga sikap.

Lewat seorang idol juga -- Utamaro, Shijimi belajar soal profesionalitas, terlebih profesionalitas di dalam dunia hiburan. Profesionalitas ialah kondisi dimana kita harus mengorbankan apapun demi kepentingan orang lain. Terlebih lagi, demi kepentingan penggemar atau penikmat. Di sini, Utamaro sudah kehilangan cintanya demi bisa menjadi seorang idol. Ia juga menikmati sekali perannya sebagai seorang idol. Walau skandal menerpanya, ia selalu tersenyum.




Selain menyoroti kehidupan seorang idol atau selebritas, drama ini juga berbicara soal fans. Mengajarkan bagaimana seharusnya seorang fans bersikap yang baik. Seorang fans yang baik akan selalu mendukung idolanya. Terutama saat sang idola tengah terpuruk. Namun tentunya tak boleh berlebihan. Jujur saja, saat dipertunjukan aksi seorang fans yang mengidolakan seseorang sampai berbuat yang absurd, itu terasa menggelikan -- juga menjijikan.

Ah, sungguh kita telah disodori sekelumit dunia hiburan itu. Bagaimana kerasnya bertahan di dunia yang memang bertujuan menghibur khalayak. Selain harus bisa selalu ceria, pula harus berhadapan dengan wartawan, kecemburuan pekerjaan, skandal, tekanan dari pihak yang mempekerjakan, dan lain-lain sebagainya.

Walaupun disajikan dengan cara menarik, yaitu lewat jalur komedi, drama ini masih tetap ada kekurangan. Seperti: tak dijelaskan lebih lanjut soal kudapan yang mengubah Shijimi menjadi Mayuyu. Atau tak diceritakan bagaimana Shijimi bisa menjadi seorang idol. Tapi sudahlah, tetap saja drama ini menjadi hiburan yang tepat untuk melihat bagaimana dunia hiburan itu sebenarnya bekerja, dimana seorang selebritas sesungguhnya merupakan sebuah boneka yang patut dikasihani (Sesuai dengan judul dramanya). Pula untuk menertawakan betapa bodohnya kita yang begitu naifnya dalam mengidolakan sesuatu.



RATE: 90 / 100


Genre: Komedi
Sutradara: Tomohide Sano, Kei Hirota, Toyoshima Dai, Satou
Pemain: Mayu Watanabe, Hitomi Takahashi, Tamae Ando, Keisuke Kaminaga
Produser: Tomohiro Gouda
Produksi: TV Tokyo
Jumlah Episode: 12
Tayang: 13 Januri 2012 - 6 April 2012




Sumber gambar: hasil capture
17 Nov 2015  Nuel Lubis, Author "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" 0

Shiritsu Bakaleya Koukou yang campur-aduk, tapi menghibur





Shiritsu Bakaleya Koukou. Awalnya merupakan nama sebuah dorama (drama dalam bahasa Jepang) yang sebagian besar pemerannya ialah member AKB48. Ada Haruka Shimazaki, Mina Oba, Mariya Nagao, Mariko Nakamura, dan Marina Kobayashi. Bahkan penulis naskah aslinya sendiri pun ialah Yasushi Akimoto, pendiri AKB48. Dan penyanyi untuk ending theme-nya itu  - yang berjudul "Migikata" - ini ialah Atsuko Maeda alias Acchan yang  2012 silam sudah lulus. Tak hanya itu, di doramanya, ada beberapa episode yang begitu gencar mempromosikan AKB48. Bagi para fan, pasti tak asing dengan istilah senbatsu atau jankenpon (Sebetulnya ini nama suit Jepang) yang akan diceritakan di dorama ini.


Dorama yang disutradarai oleh Kentaro Moriya dan Masahiko Kiki ini menceritakan mengenai sebuah sekolah yang kebanyakan muridnya ialah berandalan yang suka berkelahi dengan murid sekolah ini. Karena kebiasaan brutal mereka itulah, pihak sekolah Bakada - nama sekolah itu - bekerja sama dengan sebuah sekolah swasta putri bernuansa Katolik - yang tampak dari gedung sekolah dan istilah 'pelayanan doa'. Mereka sepakat menggabungkan kedua sekolah. Tak sepenuhnya bergabung, sebetulnya. Hanya sebagian dari murid sekolah Cattleya (baca: Cataleya - dari sini muncul kata Bakaleya yang artinya mungkin, Cattleya yang bodoh) yang pindah ke Bakada.Dan segelintir itulah yang akan disebut sebagai Cattleya cabang dua.

Mengetahui kabar merger tersebut, beberapa murid senior Bakada protes. Mereka main masuk begitu saja ke kantor guru. Tapi protes mereka diabaikan. Keputusan tetap keputusan. Mereka harus bersedia menerima kedatangan murid-murid perempuan yang awalnya bikin jengkel. Bagaimana tak bikin jengah? Siswi-siswi tersebut berani benar dengan para murid Bakada yang sudah terkenal keberingasannya. Siswi-siswi itu dengan beraninya mencopot plakat Bakada, merombak toilet, membuang meja bersejarah Bakada, hingga merombak total isi ruangan kelas.

Tapi sih, yang menjengkelkan saat meja kebanggaan para Bakada dibuang. Siswi-siswi itu tak tahu meja tersebut begitu berharganya. Makanya, mereka bingung setengah mati kenapa para murid lelaki sampai rela mencari meja yang sudah dibuang. Tapi pimpinan siswi Cattleya yang bernama Fumie Shingyoji mengerti sangat kenapa mereka melakukan itu. Walau sudah usang, yang namanya benda penuh kenangan pasti akan sulit dibuang.

Itulah awal-awal kisah pertemuan siswi Cattleya dengan murid Bakada yang bengal. Selanjutnya banyak kisah menarik yang terjadi dan memberikan pelajaran berharga, khususnya ke siswi-siswi Cattleya; terlebih lagi untuk Fumie. Fumie yang merasa dirinya sempurna akhirnya sadar bahwa ia sudah melewatkan beberapa hal dalam kehidupannya yang nyaris sempurna. Bahkan dari salah seorang murid Bakada bernama Tatsuya Sakuragi, ia belajar tentang arti persahabatan. Kala itu, Tatsuya menegurnya, "Jadi kamu lebih mementingkan pelajaran daripada teman?". Waktu itu, ada salah seorang teman Fumie yang lagi ada masalah dan harus absen. Dan Fumie, bukannya mencari, ia malah sibuk di dalam kelas dengan alasan tak baik meninggalkan jam pelajaran yang sedang berlangsung.

Sungguh dorama yang satu ini, walau banyak adegan kekerasan dan bahasa eksplisit, namun penuh moral dan layak ditonton kaum remaja. Dorama ini mengajarkan tentang apa itu solidaritas dan persahabatan. Seperti saat Tatsuya yang kerepotan bikin naskah pidato. Teman-temannya yang pergi dahulu karena enggan membantu, jadi balik lagi dari kesibukan masing-masing. Atau saat Cattleya diterpa isu tak enak, murid-murid Bakada dengan sukarela membantu. Tatsuya malah menyuruh kawan-kawannya untuk menghibur Fumie. Lucu melihat kawan-kawan Tatsuya berusaha melawak, tapi tampang Fumie datar.

Terakhir, dorama ini terdiri dari 12 episode, seperti layaknya dorama-dorama lainnya.  Walau berakhir, Shiritsu Bakaleya Koukou tetap berlanjut dalam bentuk film. Namun kalau boleh jujur, lebih suka doramanya ketimbang filmnya. Lebih berkesan. Filmnya, terlebih ultimanya, kurang greget. Tapi tetap saja, suka dengan cara sutradaranya, Takashi Kubota yang berani bereksperimen dengan menggabungkan unsur action, romance, dan commedy menjadi satu bagian utuh yang enak ditonton. Ini sungguh hiburan yang jarang sekali kita temukan. Coba deh berpikir. Berapa banyak sih film - dimana ada adegan pukul-pukulan yang begitu dipertontonkan, lalu ada adegan mesra-mesraan khas romance, diikuti aksi-aksi konyol khas komedi? Jarang sekali, kan? Nah itu dialah kelebihan film ini. Dijamin tak akan pernah bosan menonton film Shiritsu Bakaleya Koukou ini.


Terakhir, penilaiannya nih. Untuk dorama, berani kasih nilai 10. Sementara filmnya, sepertinya hanya cukup dengan nilai 8,5.
17 Nov 2015  Nuel Lubis, Author "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" 0

"May Who": Sebuah Roman Picisan yang Terselamatkan oleh Fiksi, Animasi 3D, dan Hidden Message


Mungkin pembauran teknik pembuatan film animasi dan film non-animasi sudah bukan barang baru. Sudah banyak, bukan, film-film seperti itu? Ambil contoh, "Osmosis Jones" (2001), yang bercerita tentang perjalanan seorang pil yang bertualang dalam tubuh seorang pria dalam memberantas virus penyakit. 


Scene Kotonoha
Hai, pembaca GETO KATANYA. baru-baru ini Nuel menonton film serupa. Serupa tapi tak mirip. Tak miripnya itu di asal negara, cerita, dan teknik animasinya. Yang satu ini berasal dari Thailand, sebuah komedi-romantis. dan teknik animasinya, beuh, gila betul bagusnya. Mengingatkan Nuel pada film animasi dari Jepang yang berjudul "Kotonoha no Niwa". Mirip seperti itu, tapi hampir mendekati 3D. Kalau mau tahu, langsung saja tonton sendiri di bioskop yah! 


Film Thailand yang dimaksud itu "May Who", yang bergenre komedi-romantis. Sama seperti film-film lainnya yang bergenre sejenis dan dari negara sama, "May Who" ini pun sama. Sama-sama memiliki unsur komedi yang alami, tidak terlalu dibuat-buat. Walaupun ada beberapa adegan yang begitu dipaksakan sekali humornya. Jatuhnya malah bikin jijik. Ambil contoh, saat salah satu guru memeluk siswanya yang pujaan hati tiap siswi sekolah tersebut. Tapi abaikan saja, karena film ini bukan film bertema LGBT, walau ada secuil unsur LGBT.

Tiap kali Pong menggambar, scene animasinya muncul.
"May Who" ini bercerita ini tentang sepasang remaja perempuan dan laki-laki yang awalnya memiliki target cinta yang berbeda-beda. Yang laki-laki bernama Pong, yang suka pada temannya di Cheerleader Club--yang  bernama Mink. Yang perempuan itu namanya May Nhai (dalam bahasa Inggris, Who) dan menyukai si cowok pujaan hati tiap siswi, Fame. Mereka berdua awalnya beda kelas dan bertemu secara tak sengaja. 

Diceritakan bahwa Pong datang telat. Si cowok ini mengantarkan tugasnya ke ruang guru. Sayang dia salah kasih. Yang dikasihnya itu buku tulis yang berisi komik buatannya tentang Mink, yang di akhir komik, sungguh menggambarkan betapa mesumnya seorang Pong. Terang saja Mink marah. Siapa juga yang mau baca komik porno. Apalagi salah satu tokohnya itu, yah Mink sendiri. Komik itu bisa sampai di tangan Mink karena ulah May yang mengira buku itu kepunyaan Mink. 


Ceweknya ini rada mirip member HKT48, Meru Tashima yah?! =D
Begitu tahu May pelakunya, Pong segera mencari akal untuk balas dendam. Dengan memanfaatkan sebuah insiden yang terjadi di toilet, Pong bikin komik tentang May yang kalau ada yang berdekatan, pasti akan langsung kesetrum. Awalnya Pong kira May bawa alat setrum. Nyatanya tidak. Dari sanalah, akhirnya Pong tahu rahasia kecil yang bikin May menyendiri. Sebab cewek itu bisa mengeluarkan listrik dengan daya cukup besar tiap marah, terkejut, atau kelewat gembira. 

Semenjak kedatangan pertama Pong ke rumah May, mereka berdua jadi semakin akrab. Mereka sering kumpul bareng. May sering membantu Pong. Begitu pun dengan Pong. Namun, tak satu pun dari mereka berdua yang sadar bahwa keduanya sudah saling jatuh cinta. Yang ada mereka tetap terfokus pada target cinta masing-masing. Pong dengan Mink, May dengan Fame. Perlu waktu lama buat keduanya menyadari perasaan sesungguhnya

Hingga akhirnya, karena suatu hal, May ngambek dan memilih mendekam di kamarnya. Pong lalu menghiburnya dengan bikin satu komik khusus tentang May. May suka dengan komik tersebut. Cewek itu sangat terhibur. Di saat itulah, Pong mulai menyadari bahwa dirinya tengah jatuh cinta dengan May yang bukan siapa-siapa di sekolahnya. Perlahan posisi Mink tergantikan oleh May. 

May pun sama. Bedanya May masih ragu. Cewek ini masih lebih memilih Fame yang jauh lebih baik dari Pong, seorang cowok yang demen bikin komik daripada berolahraga. Namun di sebuah pertandingan olahraga, May sadar. Dengan berat hati (karena takut menyakiti Fame), May menolak Fame. Fame bisa menerimanya, karena dari awal sadar bahwa May sebetulnya lebih mencintai Pong. 

Film-film percintaan biasanya klise. Tema yang diangkat itu biasanya itu-itu saja. "May Who" ini pun sama. Bedanya, "May Who" ini menyoroti sesuatu yang lumayan jarang dijadikan ide cerita sebuah film. Berapa banyak sih film tentang sepasang kekasih yang awalnya melirik target cinta yang lain? Tak terlalu banyak, kan. Bisa-lah kita hitung pakai jari (dengan sangat hati-hati sekali). 

"May Who" ini memiliki alur yang cukup sederhana. Ceritanya sederhana. Humornya sangat menghibur. Dan, tetap, layaknya film-film Thailand bergenre sejenis, ada pesan-pesan moral yang hendak disampaikan (yang ini tentunya perlu kejelian kita sebagai penonton). Contohnya seperti: "Kalau mau cinta yang begitu perhatian, jangan melakukan hal-hal konyol atau aneh" atau "Kalau seseorang memang mencintai kita, orang itu pasti akan selalu mencari cara untuk bersama dengan kita". 

Mungkin "May Who" ini, untuk beberapa orang, seperti sebuah roman picisan. Namun sutradaranya sangat lihai dalam mengemasnya jadi hiburan menarik yang membuat orang tergila-gila. Kepicisan ceritanya ditutupi oleh nuansa fiksi dan penggunaan teknik animasi 3D, yang menurut Nuel, itu ide yang sangat brilian sekali. Kalian semua harus segera menontonnya! Mungkin ceritanya boleh membosankan. Tapi kalian perlu lihat sendiri bagaimana menariknya scene-scene tertentu yang merupakan animasi 3D, yang visualnya amat bagus sekali. Untuk humornya sendiri, relatif-lah yah. Nuel jujur bilang "May Who" ini banyak disisipi humor slapstick yang mungkin beberapa di antaranya sudah amat familier sekali. Tapi...

..."May Who" ini tetap amat direkomendasikan untuk ditonton. Mari mengabaikan ceritanya yang sungguh sederhana serta komedi slapstick-nya. Nikmati saja betapa menarik visual animasi yang ada di dalamnya. Pun, bagaimana ternyata sebuah fiksi bisa menjadi inspirasi tersendiri untuk sebuah film bergenre komedi-romantis. 


RATE: 90 / 100

Genre: Komedi-Romantis
Produksi: SF
Distributor: SF Cinema City
Produser:
Sutradara: Chayanop Boonprakob
Pemain: Bank Thiti, Punpun Suttata, Thanapob "Tor" Leeratanakachorn...
Bahasa: Thailand
Durasi: 120 menit
Tanggal Rilis: 1 Oktober 2015
14 Oct 2015  Nuel Lubis, Author "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" 0